© 2012 arista

Menikmati Kesunyian mencumbui keramaian

Entah apa judul diatas, sekenanya, senulis-nulisnya.

Selamat sore, hari ini 14 hari sesudah postingan saya sebelumnya membuat berparagraf paragraf di sebuah blog sepertinya sebuah kemalasan yang sangat luar biasa, perlu dipaksa agar bisa mau menulis. bukan karena tidak bisa, tapi karena memang saya lebih suka berkicau 140 karakter tau kalau mau rada banyak ya Meracau di Facebook.

sore tadi sebuah massage masuk ke Email ku, sebuah pesan Linked.in dari pak bambang haryanto,

Moga sehat-sehat adanya.
Makasih, kita sudah konek disini. Moga-moga aku bisa terampil membagi perhatian antara email (ada 4-5 email), beberapa blog, Facebook, Twitter dan kini LinkedIn. Belum lagi harus browsing artikel. Nonton YouTube :-).

Oh ya, mohon kau kirim alamatmu. Penerbit akan mengirimimu buku Komedikus Erektus 2. Makasih berat kau sudah mem-buzzing buku itu via Facebook. Kalau longgar, ada beberapa twitku tentang buku itu kumohon harap bisa Arista retwit ya ?

Matur nuwun.

BH

mendadak saya langsung kangen dengan beliau, kangen kata kata beliau maka saya pun (entah apa yang membuat saya begitu suka dengan tulisan beliau, mungkin semacam Gejala Chauvinisme karena kita berasal dari kota yang sama Wonogiri)

di facebook beliau, saya menemukan sebuah Foto dan Komentar yang mengelitik sore hari saya.

430772_356952310993456_269352256420129_1182261_1384945482_n

di kotak komentar pak bambang mengomentari dengan kata kata ini
Kuntowijoyo pernah menulis Khotbah Diatas Bukit.
Foto ini ? Dialog Diatas Bukit ?
Apa keduanya sedang mengobrolkan tentang Facebook ?
Atau tentang kebesaran Tuhan ?

Kemudian saya teringat sebuah Puisi Emha Ainun Nadjib
99 untuk Tuhanku

Tuhanku
berdekatankah kita
sedang rasa teramat jauh
tapi berjauhankah kita
sedang rasa begini dekat
seperti langit dan warna biru
seperti sepi menyeru
Kekasih
Kau kandung aku
kukandung Engkau
seperti mengandung mimpi
terendam di kepala
tapi sayup tak terhingga
hanya sunyi
mengajari kita
untuk
tak mendua

ya, hanya sunyi yang mengajari kita untuk tidak mendua. Persis seperti komentar pak bambang

Kesunyian itu lama-lama sepertinya akan menjadi “makhluk” yang langka. Atau bahkan terancam punah.Bising dan polusi suara kini semakin merangsek kemana-mana. Sang begawan (tiap orang memiliki sisi begawan) akan terusir dari gunung. Bermeditasinya di mall-mall kota.

setiap hari selalu kemrungsung, ribut, riweh dan entah apalagi padanan katanya, setiap pagi saya selalu mengantri busway di shelter kalideres, riuh rendah penumpang berebut tempat duduk adalah hal yang biasa saya jumpai, kemudian di kantor mengelola akun sosmed adalah menerjunkan diri kedalam keramaian atau menciptakan keramaian.

lalu dimana sepimu, kemana sunyimu, padahal momen sepi dan sunyi itu adalah momen bagus untuk kembali belajar kepada DIA, njagong, berbicara, bercerita soal grundelan grundelan hidup, mengadu soal nasib baik yang harus di kejar.

ah Tuhan, sesungguhnya saat menulis ini aku tahu bahwa aku sedang kesepian.

kelapa gading 28-2-2012



Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

2 Responses to “Menikmati Kesunyian mencumbui keramaian”

  1. This is such a Great resource that you are providing and you give it away for free. It gives in depth information. Thanks for this valuable information.

  2. web hosting says:

    Awesome, but it would be better if in future you can share more about this subject. making good content.

Leave a Reply